~repost mas dwi~
Sebelum kita nulis skripsi langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Mencari tema
2. Cari Jurnal yang sesuai tema (Y-nya harus sama semua)
3. Mapping Jurnal
4. Tentukan variabel x dan sampel dengan populasi
Biasanya, setiap
fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil
penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis
kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan.
Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam
beberapa bagian sebagai berikut.
Pendahuluan. Bagian pertama ini
menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian
tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui
penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.
Pengkajian
Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian
dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori
dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan
bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun
alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak
nyambung.
Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data
yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan
sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan,
model penelitian yang diacu, dan sebagainya.
Hasil Penelitian.
Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil
pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan
diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.
Penutup. Berisi
ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian
harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan
begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang
dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa
saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang
akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.
Jangan
lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading
dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun
ketidak sesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan
untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa
melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda),
kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau
keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan
Anda).
Beberapa Kesalahan Pemula
Ketidakjelasan Isu. Isu
adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat,
jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang
permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak
mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar,
tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.
Tujuan Riset &
Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu
syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal
ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi,
atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk
mendapatkan gelar S1.
Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa
yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian
pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika
nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal,
menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau
isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara
runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya.
(baca juga: Joint Hypotheses)
Padding. Ini adalah fenomena yang
sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak
sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang
bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak
juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi
ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.
Joint
Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah
kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam
melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah
sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan
metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah
bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal
memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan
dicecar habis-habisan.
Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa
sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan
riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat
terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang
ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya
waktu.
Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian
Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak
sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan
gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari
penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan,
dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan
berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.
Menghadapi Ujian Skripsi
Benar.
Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral
examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius
tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang
ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi,
gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus
dihadapi.
Setelah menulis skripsi, Anda memang harus
mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji
terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus
tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi
dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara
bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang
skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar
antara 30 menit hingga 1 jam.
Ujian skripsi kadang diikuti juga
dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda
akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata
kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja
dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.
Grogi,
cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi
sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan.
Ujian skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan.
Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda
lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan
perform well.
Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah
Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti.
Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda
paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji
nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus
siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak
outstanding di hadapan dewan penguji.
Juga, ada baiknya beberapa
malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat
tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.
Jujur
saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada
kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang
professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang
ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan
Alhamdulillah saya mendapat nilai A.
Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.
Pasca Ujian Skripsi
Banyak
yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi,
bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu
traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus
ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama
ini Anda inginkan.
Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya
belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi
dengan skripsi Anda. Caranya?
Cara paling gampang adalah
memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada
media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius
terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi
Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin
banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat
bagi bangsa ini.
Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini
bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola
pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain.
Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan
seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.
Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?
sekadar tambahan: (forward dari milis)
Belajar
merupakan proses kontinu/berkesinambungan yang merupakan kombinasi
antara: menguasai sesuatu yang baru, menggunakan sesuatu yang sudah
dikuasai, dan mengajarkan sesuatu yang sudah dikuasai pada orang lain.
Semua
manusia pada dasarnya melakukan tiga hal di atas selama hidupnya
(belajar berjalan, membaca, berbicara, dll). Tinggal ganti `sesuatu’
dengan fisika/topik fisika/bidang ilmu yang kita minati. Itu menurut
saya langkah yang paling alamiah dan wajar untuk menjadi fisikawan. Hal
di atas juga tidak didikte oleh latar belakang (umur, agama, kelamin,
pendidikan, dll).
Ini beberapa point penjabaran:
* Fisika
(atau ilmu apa saja) itu luaassss sekali. Orang sepintar apa pun tidak
akan pernah bisa menguasai fisika (atau bidang ilmu lainnya) semuanya.
Bahkan bagian pokoknya saja masih luas. Jadi jangan pernah khawatir
kalau tidak tahu sesuatu.
* Belajar itu proses kumulatif
(akumulasi) sedikit demi sedikit. Yang sering sekali dilupakan adalah
karena mempelajari sesuatu yang kecil, lantas tidak dianggap serius.
Sekecil atau semudah apa pun yang mau dipelajari, sebaiknya dipelajari
dengan baik.
* Tujuan utama BUKAN menyelesaikan problem/topik
besar (saya mau buat teori kuantum gravitasi ! Saya mau jago fisika
sampai nguasai segala macam teori medan kuantum dan kosmologi ! Nah loh
!), tapi bagaimana untuk selalu bisa menggunakan ilmu/pengetahuan yang
sudah dikuasai. Tidak perlu malu atau minder kalau pengetahuan belum
banyak. Hampir selalu ada hal-hal (kadang penting) yang bisa dilakukan
dengan pengetahuan, sesedikit apa pun.
* Belajar mandiri
merupakan kemampuan yang harus dimiliki. Definisi belajar mandiri bukan
berarti sendirian (single-fighter/alone): sambil pegang buku setumpuk
coba di baca semua dan diselesaikan soalnya ! Tetapi bagaimana bisa
memperoleh pengetahuan atas inisiatif sendiri. Perhatikan kata kuncinya:
inisiatif sendiri ! Sumber pengetahuan banyak: buku, jurnal, internet,
paper, tanya orang lain pun termasuk, eksperimen, coba-coba,
iseng-iseng, denger kebetulan di tengah kumpul-kumpul, melihat seminar!
Jadi bagaimana dengan inisiatif sendiri kita menggunakan semua sumber
pengetahuan untuk mendapatkan ilmu.
* Baca-baca-baca-baca !
Banyak sekali pengetahuan yang sudah tertulis di buku/paper dan kita
tinggal membaca. Bagaimana mencari buku/paper/jurnal/webpage yang tepat
dimana tertulis sesuatu yang kita butuhkan, adalah seni dan teknik yang
tidak mudah tapi bisa dipelajari. Tools seperti Google saja bisa sangat
membantu untuk belajar. (Terus terang, Google adalah tempat bertanya
saya yang pertama kali umumnya kalau saya ada masalah, masalah apa saja)
*
Tanya-tanya-tanya-tanya ! Kuliah itu diadakan untuk bertanya. Bahan
yang dicatat di papan tulis sebagian besar disalin dari buku (kecuali
kalau yang ngasih kuliah jago banget dan punya ilmu baru).
o
Kenapa kita harus bertanya ? Karena tidak akan pernah dosen/pengajar
bisa memberikan semuanya pada murid kalau cuman dosen/pengajar sendiri
yang ngomong di kelas. Mungkin dosen/pengajar menganggap mahasiswa tahu
X, padahal mahasiswa belum tahu. Mungkin dosen/pengajar tanpa sengaja
melewatkan materi Y, padahal materi Y penting, dan baru setelah ada yang
tanya tentang materi Y, sang dosen/pengajar sadar (Oh iya, saya lupa
tentang Y, kuliah berikut kita bahas). Mungkin … tanya saja, adalah hak
anda untuk bertanya, meski belum tentu dijawab.
o Di Indonesia, yang
satu ini sudah budaya mengakar: orang sulit bertanya. That’s really bad.
Akibat yang paling buruk karena orang jarang/tidak pernah bertanya:
orang tidak tahu bagaimana cara bertanya ! Padalah pertanyaan adalah
kunci mencari pengetahuan, baik pengetahuan baru atau lama.
o Komunikasi dan interaksi adalah kunci pengajaran, pembelajaran, dan penyebaran ilmu.
*
Terkait soal sebelumnya: karena orang tidak tahu bagaimana bertanya,
orang tidak bisa membedakan antara bertanya dan meminta orang lain untuk
mengerjakan perkerjaannya. Itu 2 hal yang berbeda, tapi tipis.
Mula-mula kalau anda baru belajar untuk bertanya (iya, tidak tahu
bagaimana memformulasi pertanyaan, jadi belajar bertanya), anda mungkin
tidak tahu bedanya. Tapi kalau sudah biasa bertanya (dan menjawab
pertanyaan orang lain tentunya), anda akan tahu, bedanya di mana. Anda
bisa mengenali: Oh si A itu cuman malas doank, dia nggak mau kerja. Oh
si B itu dia ingin tahu, kalau sudah diberitahu dia akan coba dan
kerjakan sendiri.
Ketidakbisaan membedakan 2 hal di atas itu
buruk sekali. Itu memicu kemalasan di satu pihak yang pemalas (merasa
dia bertanya, padahal dia minta orang lain ngerjakan kerjaanya), dan
juga memicu keseganan untuk bertanya di pihak yang rajin (merasa takut
kalau pertanyaan dia dianggap malas, padahal dia memang ingin bertanya).
Dua-duanya kontraproduktif untuk perkembangan ilmu.
*
Tulis-tulis-tulis. Dulu saya malas nyatat dan nulis, tapi itu ternyata
salah. Otak saya terbatas kapasitasnya dan gampang lupa, jadi mendingan
ditulis. Kalau anda punya ide/pikiran atau apa, tulis. Tidak perlu rapi
sekali asal jelas, tapi tulis. Sebab siapa tahu ide/pikiran anda
ternyata berguna kemudian. Kalau ada masalah, tulis masalahnya. Kalau
nemu buku/paper bagus, tulis siapa pengarangnya. Kalau ketemu orang atau
siapa yang kira-kira pintar dan baik dan bisa ditanya, tulis
email/alamatnya. Tulis-simpan-baca-lagi.
* Jangan dikira hanya
ada 1 metode atau cara dalam fisika/ilmu. Ada kisah tentang seorang
dosen yang ngasih PR tentang medan magnet dari suatu rangkaian listrik.
Dari seluruh anak di kelas, hanya ada 1 yang bisa mengerjakan. Kok bisa ?
Ternyata problem itu tidak mudah untuk diselesaikan secara analitik
(diturunkan atau pakai integral atau apa), tapi rangkaian listrik itu
bisa dibikin di lab elektronik, dan medan magnetnya bisa diukur ! Satu
anak yang dapet jawaban adalah orang yang pergi ke lab dan membuat
rangkaiannya di lab, lalu mengukur.
Fisikawan menggunakan segala
macam cara dalam riset: cara-cara yang mungkin tidak terbayang kalau
kita masih baru, tapi ternyata sahih dari segi prinsip ilmiah.
*
Jebakan/pitfall/trap dalam belajar atau kerja di fisika (serta bidang
ilmu lainnya) itu banyak. Tidak semua textbook/paper (seterkenal apa pun
pengarangnya) itu bagus dan benar. Tidak semua orang yang kerja di
fisika itu tahu fisika dengan benar (ini fakta - but life goes on). Dan
hanya anda sendiri yang bisa mencegah jatuh ke dalam jebakan tsb, dengan
selalu bersikap kritis, terbuka, dan ingin tahu. Saya sudah terjebak
teksbook/penjelasan yang kurang bagus, konsep/ide yang salah/kurang
tepat, kata-kata atau pendapat orang lain yang ternyata salah
berkali-kali jadi kalau kelak anda mengalami nasib serupa jangan patah
semangat - semua orang bisa jadi mengalami hal sama.
Dunia
fisika, misalnya, tidak se-innocent dan se-polos dan se-ideal dugaan
anda. (Wah, fisika/fisikawan itu idealis yah .. wah salah besar ini).
Meng-idealisasi fisika sejak awal adalah kesalahan fatal !
* Jangan
takut salah ! Terutama bagi yang sudah senior atau apa, karena takut
tampak bodoh di depan murid. Lebih baik bilang tidak tahu daripada sok
tahu ! Dengan sendirinya, juga jangan menyalahkan/mencela orang lain
kalau orang lain tidak tahu, tapi bantu !
* Luangkan waktu untuk
mengajarkan apa yang sudah anda ketahui, dan menjawab pertanyaan orang
lain. Setiap orang yang bekerja dalam bidang ilmu adalah juga pengajar
(meskipun ybs tidak berprofesi sebagai guru atau profesor). Beberapa hal
positif dari menjawab pertanyaan: menyegarkan kembali pengetahuan di
otak, memberi saya cara pandang baru pada suatu masalah, memberi saya
petunjuk dan kesempatan menemukan jebakan/pitfall/trap terkait point 10
di atas, dan dengan sendiri-nya solusi untuk jebakan/pitfall/trap tsb.
Di tempat saya bekerja, dimana ada 500 lebih orang (profesor, staf riset
di lab, insinyur dan teknisi, dan mahasiswa Ph.D.), bertanya dan
menjawab pertanyaan adalah kebiasaan sehari-hari semua orang, tidak
hanya yang masih baru atau junior. Besar sekali kemungkinannya bahwa
situasi serupa akan juga ditemukan di tempat-tempat lain di mana
kegiatan riset dan akademiknya maju.
* Terakhir: Jangan percaya
100 persen pada pendapat/pikiran orang lain sebelum
dibaca/dipikirkan/dan dicoba sendiri. Termasuk kata-kata saya di atas.
Coba sendiri dan buktikan apakah kata-kata saya benar atau salah. Kalau
benar ya berarti good news, kalau salah berarti saya harus perbaiki.
Practice ! Experiment ! Just try it !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar